Pages

Rabu, Mei 30, 2012

makalah EKOLOGI HEWAN “KEBERADAAN HABITAT DAN TEMPAT PERKEMBANGBIAKAN NYAMUK


TUGAS KELOMPOK
EKOLOGI HEWAN
“KEBERADAAN HABITAT DAN TEMPAT PERKEMBANGBIAKAN NYAMUK”

Di Susun Utuk Memenuhi Tugas Terstruktur Mata Kuliah Ekologi Hewan Dengan Dosen Pengampu Dr. Agus sutanto, M.Si dan Suharno Zen, M.Si

                                        
Di Susun Oleh
Kelompok 9

NAMA                                                NPM                           
Ahmad khoirudin                    10321289

Prody  :Bology (A)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN(FKIP)UNIVERSITAS MUHAMADIYAH METRO
2012



KATA PENGANTAR
BISMIL~2

Puji syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT yang memberikan rahmat-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “KEBERADAAN HABITAT TEMPAT PERKEMBANGBIAKAN NYAMUKMakalah ini disusun untuk memenuhi tugas pada mata kuliah “Ekologi Hewan” yang dibina Dr. Agus sutanto, M.Si dan Suharno Zen, M.Si. Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan kita tentang pentingnya mempelajari Ekologi Hewan. Tak lupa penyusun ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusun dalam menyelesaikan tugas ini, baik bantuan meterial, maupun bantuan berupa dorongan semangat sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas ini tepat waktu.
Akhir kata, tiada gading yang tak retak, demikian pula dalam penyusunan makalah ini penyusun merasa masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penyusun meminta kritik dan saran yang bersifat membangun sehingga nantinya dalam menyusun makalah selanjutnya jauh lebih baik.


Metro, 10 April 2012
Tim Penulis









DAFTAR ISI



























BAB II
PEMBAHASAN

1.Nyamuk Aedes aegypti
Aedes aegypti merupakan jenis nyamuk yang dapat membawa virus dengue penyebab penyakit demam berdarah. Selain dengue, A. aegypti juga merupakan pembawa virus demam kuning (yellow fever) dan chikungunya. Penyebaran jenis ini sangat luas, meliputi hampir semua daerah tropis di seluruh dunia. Sebagai pembawa virus dengue, A. aegypti merupakan pembawa utama (primary vector) dan bersama Aedes albopictus menciptakan siklus persebaran dengue di desa dan kota. Mengingat keganasan penyakit demam berdarah, masyarakat harus mampu mengenali dan mengetahui cara-cara mengendalikan jenis ini untuk membantu mengurangi persebaran penyakit demam berdarah.


Nyamuk demam berdarah mengalami metamorfosis sempurna (holometabola), dari telur – larva ( jentik ) – pupa – hingga imago (dewasa).
1.    Telur
Menurut Agus Kardinan ( 2003 : 2 ) selama bertelur nyamuk betina mampu meletakkan 100 – 400 butir telur. Biasanya, telur – telur tersebut diletakkan di bagian yang berdekatan dengan permukaan air, misalnya di bak yang airnya jernih dan tidak berhubungan langsung dengan tanah.

Telur berukuran kurang lebih 0,5 mm. frekuesnsi nyamuk bertelur sekitar 2 atau 3 hari, lama menetas telur tersebut beberapa saat setelah kena air, hingga dua samapi tiga hari setelah berada di dalam air dan  telur menetas menjadi jentik ( Depkes, 2004 : 5 )

2.    Larva
Pada stadium ini, kelangsungan hidup larva dipengaruhi oleh suhu dan pH air perindukan, makanan, kepadatan larva, kekeruhan serta adanya predator. Adapun cirri – cirri dari larva diantaranya : larva berukuran 0,5 – 1 cm, gerakannya berulang – ulang dari bawah ke permukaan air untuk bernafas kemudian turun kembali ke bawah dan seterusnya. Pada waktu istirahat, posisinya hampir tegak lurus dengan permukaan air. Mengalami empat masa pertumbuhan ( instar ), diantaranya sebagai berikut :
a.    Larva instar I, kurang lebih 1 hari dengan ukuran 1 – 2 mm, duri – duri pada dada belum jelas dan corong pernapasan pda siphon belum jelas.
b.    Larva instar II, kurang lebih 1 – 2 hari. Berukuran 2,5 – 3,5 mm, duri – duri belum jelas, corng kepala mulai menghitam.
c.    Larva instar III, kurang lebih 2 hari, berukuran 4 – 5 mm, duri – duri dada mulai jelas dan corong pernapsan berwarna coklat kehitaman.
d.    Larva instar IV, kurang lebih 2-3 hari, berukuran 5-6 mm dengan warna kepala gelap
Setiap pergantian instar disertai dengan pergantian kulit, terdapat coorng udara pada segmen terakhir. Pada segmen abdomen tidak dijumpai rambut berbentuk kipas, pada corong udara terdapat pecten, sepasaang rambut atau tidak dijumpai pada corong udara ( siphon ). Pada aabdomen segmen kedelapan ada comb scale sebanyak 8 -21 atau berjejer 1 – 3, bentuk individu dari comb scale seperti duri. Pada sisi thoraks terdapat duri yang panjang dengan bentuk kurva dan adanya sepasang rambut kepala.
Di tempat perindukannya, larva Aedes aegypti tampak bergerak aktif, dengan memperlihatkan gerakan-gerakan naik ke permukaan air dan turun ke dasar secara berulang-ulang. Pada saat larva mengambil oksigen dari udara, larva menempatkan siphonnya di permukaan air sehingga abdomennya terlihat menggantung pada permukaan air seolah-olah badan larva berada dalam posisi membentuk sudut dengan permukaan air. Larva Aedes aegypti dapat hidup di air ber-pH 5,8 – 8,8 dan tahan terhadap air dengan kadar garam 10 – 59,5 mg/l. larva Aedes aegypti instar IV dalam kurun waktu lebih dari 2 hari berganti kulit dan tumbuh menjadi pupa.
Menurut Kestina, 1995 larva nyamuk Aedes aegypti dapat hidup pada suhu 25˚C sampai dengan 35˚C. suhu dapat mempengaruhi perkemabang larva nyamuk, larva tidak dapat berkembang secara normal pada suhu dibawah 10˚C.
3.    Pupa
Menurut Agus Kardinan ( 2003 : 4 ) pupa merupakan stadium akhir calon nyamuk demam berdarah yang ada di dalam air. Bentuk tubuh pupa bengkok dan kepalanya besar. Fase pupa membutuhkan waktu 2 – 5 hari. Selama fase itu,pupa tidak memerlukan makan.

Menurut Depkes ( 2004 : 5 ) pupa memerlukan udara, pada fase ini belum ada perbedaan antara jantan dan betina. Pada umumnya nyamuk jantan menetas terlebih dahulu dari pada nyamuk betina. Setelah melewati fase ini, pupa akan keluar dari kepompong kemudian menjadi nyamuk yang dapat keluar dari air.

4.    Imago (Dewasa)
Menurut Agus Kardinan ( 2003 : 4 ) nyamuk demam berdarah mempunyai lingkaran putih di pergelangan kaki dan bintik – bintik putih di tubuhnya. Di alam, nyamuk berumur 7 – 10 hari. Akan tetapi, di laboratorium dengan kondisi lingkungan yang optimal dan makanan yang cukup, nyamuk tersebut dapat bertahan hidup hingga satu bulan.

Menurut Depkes ( 2004 : 5 – 6 ) jumlah nyamuk jantan dan nyamuk betina yang menetas dari kelompok telur pada umumnya hampir sama banyaknya ( 1 :1 ). Setelah menetas nyamuk tersebut melakukan perkawinan yang biasanya terjadi pada waktu senja. Perkawinan hanya terjadi cukup satu kali, sebelum nyamuk betina pergi untuk menghisap darah. Nyamuk jantan umurnya lebih pendek dibandingkan nyamuk betina (± seminggu ), nyamuk jantan menghisap cairan buah – buahan atau tumbuhan untuk keperluan hidupnya sedangkan nyamuk betina menhisap darah untuk pertumbuhan telurnya. Jarak terbang nyamuk betina tidak jauh dari tempat perindukannya sedangkan nyamuk betina dapat terbang sejauh 0,5 sampai ± 2 km.


a)    Perilaku dan siklus hidup
Aedes aegypti bersifat diurnal atau aktif pada pagi hingga siang hari. Penularan penyakit dilakukan oleh nyamuk betina karena hanya nyamuk betina yang mengisap darah. Hal itu dilakukannya untuk memperoleh asupan protein yang diperlukannya untuk memproduksi telur. Nyamuk jantan tidak membutuhkan darah, dan memperoleh energi dari nektar bunga ataupun tumbuhan. Jenis ini menyenangi area yang gelap dan benda-benda berwarna hitam atau merah. Demam berdarah kerap menyerang anak-anak karena anak-anak cenderung duduk di dalam kelas selama pagi hingga siang hari dan kaki mereka yang tersembunyi di bawah meja menjadi sasaran empuk nyamuk jenis ini.


b)    Pengendalian Vektor
Cara yang hingga saat ini masih dianggap paling tepat untuk mengendalikan penyebaran penyakit demam berdarah adalah dengan mengendalikan populasi dan penyebaran vektor. Program yang sering dikampanyekan di Indonesia adalah 3M, yaitu menguras, menutup, dan mengubur.
•    Menguras bak mandi, untuk memastikan tidak adanya larva nyamuk yang berkembang di dalam air dan tidak ada telur yang melekat pada dinding bak mandi.
•    Menutup tempat penampungan air sehingga tidak ada nyamuk yang memiliki akses ke tempat itu untuk bertelur.
•    Mengubur barang bekas sehingga tidak dapat menampung air hujan dan dijadikan tempat nyamuk bertelur.


Beberapa cara alternatif pernah dicoba untuk mengendalikan vektor dengue ini, antara lain mengintroduksi musuh alamiahnya yaitu larva nyamuk Toxorhyncites sp. Predator larva Aedes sp. ini ternyata kurang efektif dalam mengurangi penyebaran virus dengue.
Penggunaan insektisida yang berlebihan tidak dianjurkan, karena sifatnya yang tidak spesifik sehingga akan membunuh berbagai jenis serangga lain yang bermanfaat secara ekologis. Penggunaan insektisida juga akhirnya memunculkan masalah resistensi serangga sehingga mempersulit penanganan di kemudian hari.







2. Nyamuk Anopheles
Anopheles (nyamuk malaria) merupakan salah satu genus nyamuk. Terdapat 400 spesies nyamuk Anopheles, namun hanya 30-40 menyebarkan malaria (contoh, merupakan "vektor") secara alami. Anopheles gambiae adalah paling terkenal akibat peranannya sebagai penyebar parasit malaria (contoh. Plasmodium falciparum) dalam kawasan endemik di Afrika, sedangkan Anopheles sundaicus adalah penyebar malaria di Asia. Anopheles juga merupakan vektor bagi cacing jantung anjing Dirofilaria immitis.
Sering orang mengenalnya sebagai salah satu jenis nyamuk yang menyebabkan Penyakit Malaria. "nyamuk malaria banyak terdapat di rawa-rawa, saluran-saluran air, dan permukaan air yang terekspos sinar matahari. Ia bertelur di permukaan air." nyamuk ini hinggap dengan posisi menukik atau membentuk sudut. Sering hinggap di dinding rumah atau kandang. Warnanya bermacam-macam, ada yang hitam, ada pula yang kakinya berbercak-bercak putih. Waktu menggigit biasanya dilakukan malam hari. Banyak jenis nyamuk anopheles yang bisa menyebabkan penyakit malaria. Ada anopheles sundaicus yang banyak terdapat di air payau, seperti di Kepulauan Seribu. nyamuk ini berkembang biak di lingkungan yang banyak ditumbuhi ganggang. Ia akan meletakkan telurnya di ganggang hijau yang banyak reniknya, sehingga begitu menetas, jentiknya langsung mendapat makanan renik yang hidup di antara ganggang tersebut. Ada lagi anopheles maculatus dan anopheles balabacensis yang banyak terdapat di perbukitan, seperti di Bukit Manoreh, Yogyakarta. Biasanya nyamuk ini bertelur di mata air, di air rembesan, atau di sungai yang tak deras airnya, seperti di antara bebatuan sungai. Ada lagi anopheles aconitus yang banyak hidup di daerah pesawahan atau saluran-saluran air yang ada rumputnya. Selain yang sudah disebutkan, masih banyak lagi jenis anopheles lainnya. Menurut Soeroto ada sekitar 70 jenis nyamuk ini. Penyakit malaria yang ditimbulkan pun jenisnya bermacam-macam, tergantung jenis parasitnya. Semisal, ada malaria falsiparum, vivak, ovale, dan malariae. Selain itu, nyamuk anopheles bisa juga menyebabkan penyakit kaki gajah.
a.    Ciri-ciri
•    Sangat dipengaruhi kelembaban dan suhu
•    Menggigit pada malam hari
•    Jarak terbang 0,5-3 km
•    Umur di laboratorium dewasanya 3-5 minggu
Ciri-ciri jentik nyamuk anopheles 
1.    Bentuk siphon seperti tanduk
2.    Jentik nyamuk mansonia menempel pada akar tumbuhan air.
3.    Pada bagian toraks terdapat stoot spine.
Ciri-ciri nyamuk anopheles
1.    Bentuk tubuh kecil dan pendek
2.    Antara palpi dan proboscis sama panjang
3.    Menyebabkan penyakit malaria
4.    Pada saat hinggap membentu sudut  90º
5.    Warna tubunya coklat kehitam
6.    Bentuk sayap simetris
7.    Berkembang biak di air kotor atau tumpukan sampah

a.    Siklus hidup nyamuk anopheles
Nyamuk Anopheles mempunyai siklus hidup , yang termasuk dalam metamorfosa sempurna. Yang berarti dalam siklus hidupnya terdapat stage/fase pupa. Lama siklus hidup dipengaruhi kondisi lingkungan, misal : suhu, adanya zat kimia/biologisdi tempat hidup. Siklus hidup nyamuk Anopheles secara umum adalah:
1.    Telur
Setiap bertelur setiap nyamuk dewasa mampu menghasilkan 50-200 buah telur. Telur langsung diletakkan di air dan terpisah (tidak bergabung menjadi satu). Telur ini menetas dalam 2-3 hari (pada daerah beriklim dingin bisa menetas dalam 2-3 minggu).
2.    Larva
Larva terbagi dalam 4 instar , dan salah satu ciri khas yang membedakan dengan larva nyamuk yang lain adalah posisi larva saat istirahat adalah sejajar di dengan permukaan perairan, karena mereka tidak mempunyai siphon (alat bantu pernafasan). Lama hidup kurang lebih 7 hari, dan hidup dengan memakan algae,bakteri dan mikroorganisme lainnya yang terdapat dipermukaan .
3.    Pupa (kepompong)
Bentuk fase pupa adalah seperti koma, dan setelah beberapa hari pada bagian dorsal terbelah sebagai tempat keluar nyamuk dewasa.
4.    Dewasa
Nyamuk dewasa mempunyai proboscis yang berfungsi untuk menghisap darah atau makanan lainnya (misal, nektar atau cairan lainnya sebagai sumber gula). Nyamuk jantan bisa hidup sampai dengan seminggu, sedangkan nyamuk betina bisa mencapai sebulan. Perkawinan terjadi setelah beberapa hari setelah menetas dan kebanyakan perkawinan terjadi disekitar rawa (breeding place). Untuk membantu pematangan telur, nyamuk menghisap darah, dan beristirahat sebelum bertelur. Salah satu ciri khas dari nyamuk anopheles adalah pada saat posisi istirahat menungging.   
3.    Nyamuk Culex sp
a.    Ciri-ciri Morfologi
Ciri-ciri jentik nyamuk Culex
1.    Bentuk siphon langsing dan kecil yang terdapat pada abdomen terakhir.
2.    Bentuk comb tidak beraturan.
3.    Jentik nyamuk culex membentuk sudut di tumbuhan air(menggantung)   
Ciri-ciri nyamuk Culex
1.    Palpi lebih pendek dari pada probocis.
2.    Bentuk sayap simetris.
3.    Berkembang biak di tempat kotor atau di rawa-rawa.
4.    Penularan penyakit dengan cara membesarkan tubuhnya.
5.    Menyebabkan penyakit filariasis
6.    Warna tubuhnya coklat kehitama
n






DAFTAR PUSTAKA

http://neisanitarian.blogspot.com/2012/03/macam-macam-jenis-nyamuk.html
http://sanitasisurveilans.blogspot.com/2011/07/morfologi-nyamuk-aedes-aegypti.html

http://yudaayu67.blogspot.com/2012/02/new-publish.html

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...